Rabu, 23 Januari 2008

"Surat Cinta Ku"

Aktifitas pagi di rumah ku sangat berwarna (rumah orang tua ku tepatnya, karena aku masih parasit lajang at this moment). Di mulai oleh pekikkan Ibu ku yang menyerukan keponakan 'pelor' ku bangun hampir di tiap pagi sudah menjadi rutinitas. Alih-laih aku yang baru tidur dini hari karena beberapa dateline tulisan terusik juga dan mau ga' mau, sudi ga' sudi ikut bangun pagi. dan turun 'tanah' ( karena posisi kamar ku di atas, dan kebetulan rumah ku 'melar' ke atas, alasan lainnya adalah harga tanah mahal di jakarta jadi agak sulit untuk me-melar-kan kesamping kiri atau kanan).
"Kakak Liza......!!!(begitu biasa panggilan sayang keponakan pertama ku) Mandi cepetan!. Ini sudah siang, kamu kan harus sekolah. Nanti terlambat baru tahu rasa. Eyang Uti ga' mau bantuin kalau Bu Guru mu negur kamu karena telat datang," seru ibu ku setengah geregetan geram giman gitu loch!.
Dan seruan lain pun ikut berkumandang mengekor suara ibu ku yang bernada sama juga 'memerintah'.
Sedang aku asyik duduk dekat meja makan memandangi sarapan pagi dan secangkir kopi hitam manis. Tak jauh dari situ diletakan box bayi kepunyaan mutia, dan seperti biasa Mutia tampil manis, wangi karena sudah mandi sedari bangun pagi sekali. Dialah yang paling rajin bangun pagi-pagi sekaligus sudah berdandan rapi juga wangi sepagi ini. Tak pernah legam senyum yang terpasang untuk ku,meski aku masih kucel. Selalu manis dan bergerak-gerak badan yang di condongkan ke kanan atau kiri sesukanya, bergelayut manis pula rambut ikal hampir panjang menyentuh bahu. Bikin gemas untuk diciumi baunya.


"Iya nih, dasar malas. Tidur nya malam sih. Makanya jangan banyak main...dan Bla...Bla...Bla.." lagi seru kakak ipar ku (mamah nya Kakak Liza) menambah 'riuh' cenderung jadi keruh suasana pagi. Sebetulnya aku paling sebal kalau pagi-pagi harus 'adu argument' macam hukum rimba begitu. Untuk Keponakan ku sendiri cuma bisa manyun berwajah masam, mungkin ia sangat terusik oleh pembangunan yang sesungguhnya tidak ia setujui, seperti penjajahan saja. Masih belum beranjak dari tempat tidur ultimatum ibu ku (eyang uti) semakin berani terkesan 'sadis'.


"Kamu tuh Malas sekali Liza! Awas! kalau belum turun dari tempat tidur juga, Uti siram pakai air!. Kamu mau cara halus apa di kasar sih..???!!" Hujam kata Ibu ku.

Aku senyum-senyum saja. Lah wong dari tadi juga sudah pakai cara kasar gumam ku pendek.
semua mata memandang dan ku pun cuek. Demi mendengar suara ku, sesaat keponakan ku langsung turun lalu beringsut mendekati ku yang masih tengah duduk di meja makan.
Seperti hendak mengadu. mencari sekutu atau bantuan pada ku. Ia memilih minta ditemani oleh ku saat mandi."Sama..Tante...." lenguhnya pelan.
Ibu, Kakak ipar juga kakak laki-laki ku seketika memandang ku seperti sebuah perintah..sudah sana cepat temani keponakan mu dari pada kesiangan mandi dan telat ke sekolah. Loh..kok jadi sewot semua matanya...damai aja, Bung! Setengah diseret langkah ku pun menuntun Kakak Liza ke kamar mandi. Masih dalam diam ku pandangi ia mepreteli baju tidur (daster) pada tubuhnya yang gendut menggemaskan itu ('Munel' kalau bahasa ibu ku biasa memanggilnya). Selanjutnya ku bantu ia mandi sendiri.
Bukan sok Jaim..tapi aku paling tak hoby ikut nimbrung 'diskusi' pagi di rumah, hanya saja kalau sudah ada tangis pecah dan omelan-omelan semakin seru, barulah aku ikut 'rembug'. seperti halnya pagi ini. setelah acara mandi-mandi sudah selesai mulus, sesi pakai baju dan dandan pun jadi seru. Keponakan ku yang terkenal 'lelet' semakin mengeramkan anggota keluarga. Komentar-komentar serupa seruan marah pun makin santer terdengar.

"Aduh..Kakak....cepetan bajunya...." atau "Ini lagi cepat di kancingin kemejanya.., kaos kaki nya juga...tuh...kan....dan seterusnya...dan seterusnya.." kadang tak ayal kakak iparku menghadiahkan 'cuilan' pedis di kulit keponakan ku itu. dan tangis pun pecah. Sempurna lah pagi-pagi ku.
Akhir cerita, kembali aku lah satu-satunya sekutu kakak liza ( selain bapak ku/eyang akung tentunya, karena beliau cenderung tak ambil perduli asyik terus baca koran pagi). Sambil setengah mengibur disela sedu sedan oleh tangis hasil cubitan ibunya, ku bantu ia merapikan diri seketika dia pun tampil rapi. Siap menuntut ilmu di sekolah tingkat dasar negeri demi menjadi manusia yang beradab, kebanggaan negri, cerdas, pintar dan rangking satu! (mungkin?).
Malam hari setelah pulang dari mengeluti kerja kudapati tempelan sepucuk amplot surat kecil di pintu kamar ku. Menilik dari tulisannya aku bisa menebak jitu pengirim nya. Kakak Liza.
Ku baca surat yang awalnya ku pikir lucu, tapi setelah itu aku tersentuh..isi nya: (di tulis panjang tanpa tanda baca).
" Tante Ita Ini Surat dari kakak Liza Untuk Tante Jangan dibuang ya tolong pelise (maksunya Please, lalu ada tanda hati kemudian disambung lagi) aku ucapin terimakasih tante baik tadi pagi tidak ikutan marahin aku aku kan masih ngantuk tapi uti mamah bapak suka ngak ngerti terimakasih tante dan liza cinta sayang tante (kemudian baris paling bawah) dari kakak liza (tanda hati) buat tante ita jangan dibuang. LIZA."
Lantas ku dekap kertas surat bertuliskan tinta biru dengan tak beraturan antara tata hurup-hurup besar kecilnya,tapi sangat 'sempurna' untuk ku. Thank You so much dear for the lovely letter. I love You Too so muach..as well as u want dear. ( Januari'08)

Selasa, 22 Januari 2008

"Makelar Jodoh..."


"Jangan duduk di depan pintu!, nanti jauh jodoh!" tergur ibunda tercinta, yang kerap 'jutek' kala melihat ku asyik ngopi santai sambil baca koran pagi di depan lawang rumah pas di teras depan.
Loh..apa hubungannya coba. realistis dikit lah mami ku sayang.... masak duduk dihubungkan dengan jodoh (edan!). Kalau menghalangi orang bolak-balik, keluar masuk rumah itu logis, dan memang 'jodoh' itu agak tidak logis juga buat aku ( buat aku loch! jangan protes ini kan juga blog ku..*senyum*). Lebih tidak berperasaan lagi tak lama setelah bunda terkasih protes dengan kebiasaan ku, telepon rumah memekik 'horni' dan dari deringnya sudah ketebak siapa manusia ber-adab yang punya kebiasaan telepon pagi mengusik acara coffe morning ku.

"Lu musti datang ke markas. Orang nya ganteng. lu ga' bakal rugi deh!Sumpah!, percaya ma gue!" Setengah hidup ichal meyakini ku.
" Ini temen lu yang ke berapa? ga' cape' lu!! gue ogah di 'makelarin' dan ngapain gue musti percaya sama elu? Musyrik! percaya cuma sama TUHAN!" Bantah ku setengah sengit ( meskipun aku hanya muslim kapiran tapi aku masih percaya TUHAN, bukan macam JIMO yang selalu secara lugas tanpa aling-laing ber- ANTI TUHAN. Lagi ngetren kali ideologi ATHEIS saat ini, aku tak paham juga as u wish lah...!!

Cukuplah buat ku 'mimpi buruk' yang pernah aku alami dalam urusan jodoh pernikahan. dan ga' mo-mo gi (tidak mau-mau lagi). Apa lagi pakai acara di-comblang-in. Ini salah satu hal yang melanggar HAM menurut ku. Kurang membawa dampak positif malah cenderung 'memalaskan' manusia serta 'memandulkan' kreatifitas dalam pencarian jodoh.

Aku jadi ingat film serial TV Ally McBill ( bener ga' tulisannya? Pangapunten gih kalau salah..)
Makelar jodoh atau Mak' Coblang (what ever!) akan memundurkan kemandirian kita ( 'ku' tepatnya).Lah ngapain juga repot. zaman sekarang masih ada comblang-comblangan.wong zaman juga sudah serba cyber hight tec atau cangih (kata simbah ku di jogja) masih aja main comblang-comblangan' ( mendingan main jalangkung jelas-jelas terkutuk,sekutu setan dan balck magic macam santet plus pelet).

Ini zaman kemandirian Bung! Lihat! Anjungan Tunai aja sudah Mandiri. Mau ambil duit sekarang bisa sendiri ( tapi syarat dan ketentuan berlaku loh..kalau ga' punya rekening jangan mimpi bisa ambil Mandiri, ngerampok mah iya...!!!). Coba cari contoh lain yang berhubungan dengan MANDIRI selain urusan duit, pasti kalian setuju bahwa be independent more delightfull. Termasuk urusan cari jodoh. (ngomong-ngomong MANDIRI kalau ngambil di ATM Bank Mandiri Limit yang musti di tinggalin berapa sih? kok duit ku masih 100 ribu sudah ga' bisa diambil lagi ya meski setengah nya??)

"Lah kalau hasilnya baik kenapa Tidak?! kalau nungguin kamu, bakal lama. Bisa-bisa rusak tak terpakai!" begitu (lagi-lagi) komentar Bunda tersayang penuh semangat dan mengelitik kuping sedikit miris. Alah Mak' Jan..!! ( sory JAN..emak mu aku bawa-bawa!) "Ingat.......!!!" Walah langsung tutup telinga lah demi mendengar kalimat-kalimat setelah kata "Ingat" tadi. kalau aja tidak ingat kuwalat sudah aku....(jangan ding...hehehe nanti kuwalat beneran!!! Maapin mah...!!).

That's life. Jodoh Adalah isu juga wacana yang everlasting. Tidak ada basi nya. Masih saja suka memporak porandakan ide-ide serta pemikiran moderen kini. Bagaimana dengan anda? All of yours..( ya iya lah...) karena yang menjalankan kita sendiri. Udah akh!! mendingan cari anak kucing pesanan Pak Alex (my cool cheif editor) untuk Mba'Ning (begitu beliau ingin dipanggil, bukannya tidak kenal toto kromo) sang istri tercinta pengganti mendiang IBAN yang past away tahun baru kemarin.(bukan jadi parno lantas cari alternatif ke kucing loh...cuma masih banyak yang musti di lakuin selain sewot dan repot meladenin ichal si Pak comblang...last but not least thank you for your atanttion... aku tahu kamu begitu perduli dengan 'kesendirian' ku hingga tak perlu lagi melakukan ritual 'kemandirian' saban malam.......hahahahaha nah loh..kamu ketahuan!!!).(Januari'08).
















Senin, 21 Januari 2008

My Jogja's journy


Unforgetable! ke jogjakarta aku kan kembali walau apa pun yang terjadi.

Kamis, 13 Desember 2007

"Dunia jungkir balik"



"Bunda, duniaku terbalik bunda..!"
dan Ku balikan posisi tubuhnya. Kepala di bawah menggantung dan kakinya ku pegang erat seraya mengangatnya keatas supaya tidak memberntur lantai. Hati-hati sekali ku pragakan atraksi itu.
Terkesan sedikit bahaya tapi setelah menilik reaksi mutia yang geli dan menikmati 'akroba' jungkir balik dunia nya itu membuat hal ini jadi kebiasaan canda 'ala' ku di waktu senggang.
Kerap ku katakan kalimat, "terbalik" seketika ia memposisikan tubuhnya yang dalam pelukan ku bersiap 'jungkir balik'.
Eyang Uti ( ibu ku) sering misuh-misuh dan tak jarang ia berkomentar bahkan melarang bahwa itu bahaya.
Jelas berbahaya kalau di lakukan tanpa perhitungan matang dan taktik atau kemampuan diri dalam melakukan apapun tidak hanya antraksi 'jungkir balik' mutia. Alhamdulillah selama ini aku bisa menguasai atraksi itu, tanpa ada unsur 'sok' pamer atau riya (nauzubillahmindzaliq).
Tanpa aku sadari kebiasaan itu pun manarik 'minat' keponakan ku yang pertama yaitu LIZA.
Kakak Liza biasa ku memanggilnya. Menurut laporan "personal asisten" dan ibu ku ( hal yang biasa di lakukan tiap aku pulang selepas bekerja) keponakan ku yang tengah duduk di bangku sekolah dasar kelas satu itu mencoba menggendong dan mengangkat Mutia (anak ku) kemudian mempraktikan atraksi jungkir balik itu. Syukur ku, pada waktu itu anggota keluarga mengawasi 'cara' bermain keponakan dan anak ku yang menyerempet bahaya (menurut mereka). Jadi tidak terjadilah hal yang mengkhawatirkan itu karena keburu di interupsi oleh Eyang Uti ( ibu ku), Eyang Akung (bapak ku), Mama Liza (kakak ipar ku) dan Mba' Ine (Pesonal Asisten baru ku).
Singkat cerita (bener-bener singkat deh), keponakan ku itu merasa tersinggung dan sebetulnya bersalah juga tapi gengsi mengakuinya kemudian lari masuk kamar dan mengunci diri sambil menangis. Hasil dari keterangan yang ku minta secara pesonal antar aku dan kakak liza adalah ia hanya ingin bermain-main dan menyenangkan sang adik, karena ia sayang adik mutia. ( so sweet reason, but it was dangerous sweety...)
Kedekatan ku dengan keponakan pertama ku itu lah yang (Mungkin karena sejak umur satu minggu aku sudah membantu merawatnya) membuka peluang jalinan kedekatan antara aku dan dia. Maka kami pun (mulai) biasa mebicarakannya ketimbang aku harus melarang dan menasehatinya terang-terangan.
Banyak yang bilang keponakan ku itu cenderung 'meniru' ku, padahal menurutku semua anak-anak adalah copy cut sejati (peniru ulung). Dan tidak hanya aku yang ia tiru semua gaya yang ia rasa 'asyik' dan 'match' buat dunianya pun pastinya ia tiru. Alih-alih memberi pelajaran atau maksudnya mendidik kita cenderung lebih menegurnya dan jarang dengan nada tinggi, lantas mencapnya 'Nakal'(hik..hik..jadi ngomongin diri sendiri *senyum* malu). Pada hal mungkin kita dulu seperti itu atau seramnya lagi mungkin ia meniru kita sebagai orang-orang tua sekitarnya.
Maka dari itulah (nasehat banget..hemhem) kita sebagai "orang tua" harus hati-hati banget. Anak-anak adalah 'kamera" intai yang bernyawa apa pun tindak tanduk kita besar peluangnya untuk di tiru. Dan menurut tokoh dunia Imam Khomeni pun mengakui bahwa dunia anak adalah bermain dan nakal, jika tidak mungkin anak itu tidak sehat. So starting now (resolusi tahun baru juga nih) musti berbenah diri dan banyak looking back to our self dalam menghadapi serta memandang dunia yang bakal benar-benar jungkir balik. last "Tua itu pasti! dan Dewasa adalah pilihan!"
(Medio akhir tahun 2007)

Selasa, 11 Desember 2007

"one of people every year"



Minggu, 24/12/2006


Saya mencoba hidup mandiri dengan diri saya sehingga menjadi apa pun dan tidak menjadi apa pun tidak boleh menjadi masalah.


ACARA Kenduri Cinta yang digelar di pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM),Jakarta,pada awal bulan ini masih seperti bulan-bulan sebelumnya,dipadati pengunjung.Malam itu,puluhan orang duduk melingkari panggung sederhana.Mereka berangkat dari berbagai kelas sosial,komunitas, bahkan agama dan keyakinan yang ada di Jakarta.Beragam diskusi, mulai dari masalah politik hingga sosial seperti poligami yang lagi hangat-hangatnya,dibicarakan.


Tepat setengah jam menjelang pergantian hari,seorang pria mengenakan kaos oblong warna putih dan rambut agak gondrong naik ke atas panggung. Audiens terdiam.Dengan suara baritonnya,pria itu menyapa puluhan hadirin.”Saya baru datang dari Finlandia dan saya kangen dengan kehangatan Anda semua, orang Indonesia,saudara-saudara saya,”sapanya. Pria itu kemudian melanjutkan sapaannya dengan cerita dirinya baru saja keliling ke salah satu negeri Skandinavia tersebut.


Di sana,bersama Kiai Kanjeng,dia mementaskan pertunjukan musik, salah satunya di sebuah gereja. ”Saat kami hampir menyelesaikan pertujukan kami,dengan standing ovationmereka berteriak we want more,we want more...Padahal mereka tidak tahu bahasa kami. Mungkin mereka juga akan tetap standing ovationmeski kami pisuhi (marahi) dalam musik-musik kami,” candanya.


Hadirin yang hadir pun tersenyum lebar mendengar guyonan ringan tersebut. Begitulah cara khas Emha Ainun Nadjib menyapa audiensnya.Pria kelahiran Jombang,27 Mei 1953,ini tetap terkesan nakal dan apa adanya.Namun,justru dengan cara seperti itu massa yang hadir dalam forum tersebut merasa setara dengan dia.Malam itu merupakan pementasan terakhir Kenduri Cinta di TIM pada tahun 2006 ini,yang menurut Emha telah memasuki masa sewindu.


Menariknya, kegiatan ini tak pernah putus dalam kurun delapan tahun. Komentar budayawan Mohammad Sobary yang mengatakan sosok Emha adalah seorang guru tarekat kesunyian, memberi gambaran bagaimana tokoh ini membaur dengan ”jamaahnya”. Menurut Kang Sobary,Emha merupakan guru yang selalu memberikan alternatif pemikiran atas kesulitan dan kepenatan hidup dari sebagian besar masyarakat Indonesia yang terbelit kemiskinan.

Ainun, katanya,selalu menghibur dan melakukan terobosan agar persoalan masyarakat yang terpinggirkan serta tidak diperhatikan oleh negara,sedikit terpecahkan. Cak Nun,begitu Emha
Ainun Nadjib lebih akrab disapa,terheranheran ketika tim SINDO menyambanginya di sela-sela acara Kenduri Cinta malam itu.Dia kaget karena terpilih sebagai People of The Year 2006 versi polling SINDO untuk kategori Budayawan.”Saya ini kan nggak pernah muncul di mana-mana. Respoden yang milihitu paling sing pernah ketemu aku,atau bareng karo (sama) aku,wong jumlahe yang cuman segitu,”ujarnya. Bagaimanapun,dia mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan oleh responden pollingSINDO. ”Saya juga merasa berutang bila dipandang konsisten bersama masyarakat.Mugo iku bener lan bisa ngelakonilah(Mudah-mudahan itu benar dan saya bisa menjalankannya),”papar pemimpin kelompok musik Kiai Kanjeng ini.


Secara panjang lebar,Cak Nun lantas mengungkapkan posisinya saat ini,rencananya di tahun-tahun mendatang,serta kapan dia akan ”lengser”dan mengakhiri aktivitasnya sebagai budayawan atau kebersamaannya bersama komunitas orang-orang terpinggirkan.Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana melihat pilihan responden SINDO atas ketokohan Anda?

Selama ini saya merasa marjinal, sangat marjinal.Acara saya, Kenduri Cinta ini,kalau dihitung delapan tahun ya sudah sekitar 420 kalilah.Masuk koran belum sampai tiga atau empat kali,itu yang di sini. Belum yang di Jombang,masuk koran lima kalilah kira-kira.Di Yogya apalagi,tidak pernah masuk koran sama sekali.Hong Kong opo maneh,Batam opo maneh.Apalagi yang di Finlandia.Itu artinya,saya tidak merasa sebagai faktor di Indonesia,i’m not a factor.Saya melihat teman-teman itu faktor. Garin itu faktor,Butet itu faktor, Mas Taufiq itu faktor,Rendra itu faktor.Apalagi SBY dan Kwik Kian Gie,itu faktor.

Lalu di mana posisi Cak Nun?

Saya di luar semua itu.Aku disebut budayawan nggaktepat, sama sekali nggaktepat.Kegiatan saya sama sekali bukan itu. Kegiatan saya kanmenjadi jembatannya rakyat kecil dengan bupati.Urusan tani,pekerjaan nggakada,persoalan sekolahan mahal,urusan kaki lima digusur, kanbegitu Mas.Jadi bukan budayawan.Aktivitas dalam bidang budaya paling 10%,agama malah 40%,aktivitas atau tema sosial politik tambah besar lagi.Tapi yo embuhlah,budayawan iku maksude opo.

Predikat itu kantidak lepas dari aktivitas Cak Nun selama ini?

Orang hidup itu kantidak hidup karena dia merencanakan hidup. Orang hidup itu dihidupkan,jadi tergantung sama yang menghidupkan.Makanan dimasak oleh yang masak.Masa yang menentukan masakannya,yang menentukan pasti yang masak to? Lhasekarang makanannya dimakan siapa,yatergantung yang masak,bukan tergantung masakannya.Lhasaya ini kan masakan,jadi ya tergantung yang masak saya.Saya ini pasif saja, tergantung yang masak.Jadi,hidup saya sampai umur hampir 60 tahun ini dijadwal orang,saya nggak punya company profile,nggak pernah punya proposal.Saya dijadwal orang seumur hidup.Tapi itu saya batasi secara kualitatif sampai Agustus 2007.

Kenapa dibatasi sampai Agustus 2007?

Ya karena saya sudah tua.Kalau saya menanam sesuatu kanharus lebih jelas,ini tumbuh atau tidak. Kalau terus diinjak-injak orang, masa menanam terus.Harus dipikir,harus ada kebun yang jelas, komposisi kimianya harus ditata benar,kanbegitu.Tapi intinya,saya tidak punya tujuan apa-apa.

Kalau sudah sampai Agustus 2007,Cak Nun akan melakukan apa?

Batas 2007 itu waktu untuk rakyat yang selama ini bersama saya.What are you going to do?Jadi Kalau di sini Anda ini mau apa? Mau jadi gerakan politik,parlemen jalanan,mau menggulingkan kekuasaan,atau Anda mau majelis ilmu saja.Di sini,kita omongomongan dapat ilmu dan pengalaman untuk memperbaiki kehidupan.Umum.Mau Islam, Kristen,monggosemuanya,yang penting ada ilmu kehidupan. Atau kita mau sinergi ekonomi, yasilakan.Atau mau jadi institusi sosial.

Mau bikin kursus kesenian, atau forum ini agar kelompok yang selama ini tidak ter-coveroleh media sama negara agar bisa tampil,monggo.Saya kasih batas waktu sampai 2007.Saya bilang, semua akan saya bantu.Gerakan politik saya akan dorong,apa pun keputusannya akan saya dorong. Kalau untuk saya,sudah ada keputusan.Saya sudah tahu mereka mau apa kok.Cuma,tidak boleh keputusan mereka lahir dari saya. Harus lahir dari rakyat,dari umat. Saya adalah pengagum konstitusi Madinah.Piagam Madinah itu merupakan konstitusi tertulis pertama di muka bumi.

Dia dibikin pelan-pelan berdasarkan gesekan,dialektika,bentrok,dan sebagainya oleh masyarakat secara langsung.Sampai akhirnya,satu persatu sampai 46 pasal terbentuk dalam jangka waktu enam tahun. Nabi Muhammad iku wis eruh (sudah tahu). Cuma,tidak ada gunanya kalau Anda kasih tahu yang baik itu begini.Sebab yang kita butuhkan adalah masyarakat memproses dirinya untuk mengetahui kebenaran dari pengalamannya sendiri.Itu pendidikan murni.

Kalau pun (ekspresinya) tidak terjadi,itu tidak masalah karena kita sudah menabung proses.Bisa jadi Agustus 2007 terus,tapi dengan bentuk yang sudah beda.Kalau sekarang,dalam Kenduri Cinta ini misalnya,kankomunitasnya campur-campur.Dari yang mau berontak sampai kafir liberal,serta tasawuf semua ada di sini.Nah, besok sudah tidak boleh.Harus jelas,sampeanjangan mati sia-sia.

Anda sendiri mau ke mana?

Oh,saya akan merebut sedikit diri saya.Saya akan menjalankan kewajiban-kewajiban primer saya sebagai penulis,meskipun saya masih belum tentu diterima oleh media massa.Tapi saya akan mencoba menikmati kehidupan saya itu.Itu pun juga tidak tergantung atas kemauan saya, makanya dalam setahun saya akan membaca untuk menyimpulkan pekerjaan saya ini apa sebenarnya.

Sebab saya melakukan pekerjaan kiai,saya melakukan pekerjaan musikus,saya melakukan pekerjaan kebatinan,saya melakukan pekerjaan dukun,saya melakukan pekerjaan dokter,saya melakukan pekerjaan LSM,saya disuruh melakukan pekerjaan macam-macam.
Apakah Cak Nun akan memilih salah satu pekerjaan itu?
Saya tidak memilih.Saya cuma melihat. Sekali lagi,kita ini kan cuma makanan.Jadi saya mau lihat, saya belum tahu itu.

Beberapa tahun terakhir aktif dengan Kiai Kanjeng,apakah itu bagian dari rencana Cak Nun?
Oh,saya tak pernah merencanakan lahirnya Kiai Kanjeng,saya tak pernah merencanakan pentas dengan Kiai Kanjeng,dan saya tidak pernah merencanakan keliling dunia dengan Kiai Kanjeng.Saya tidak pernah merencanakan pabrik plastik,saya tidak pernah merencanakan bikin ritel,saya tidak pernah merencanakan punya sekolahan,saya tidak pernah merencanakan punya studio musik, saya tidak pernah merencanakan semua itu.Nggak pernah.

Sebagai masakan,saya ikut.(Dalam beberapa tahun terakhir ini,Cak Nun dan istrinya,Novia Kolopaking, membangun pabrik plastik dan mengembangkan bisnis ritel berupa minimarket di Yogyakarta. Menurutnya,bisnis ini mereka lakukan salah satunya untuk menghidupi anggota Kiai Kanjeng).

Apakah proses mencari jati diri itu masih berlangsung sampai sekarang?

Saya ini,...Anda lihat buku saya di toko buku saja tidak jelas tempatnya.Ditaruh di rak agama tidak cocok,di rak budaya ya tidak cocok.Apalagi ilmu,pasti lebih tidak cocok.Kebatinan juga tidak cocok.Tidak ada tempat di Indonesia untuk saya kan? Tidak ada tempat.

Lantas,Cak Nun ini masuk kategori mana?

Lho,sejauh ini memang tidak ada kategorinya, tapi saya tidak menuntut tempat untuk saya.Demi Allah saya ndakmenuntut,aku iki wis tuwek,rek(saya ini sudah tua). Saya mencoba hidup mandiri dengan diri saya sehingga menjadi apa pun dan tidak menjadi apa pun tidak boleh menjadi masalah.

Termasuk tak mau disebut sebagai budayawan?

Nggak,nggak,saya tidak menolak disebut budayawan.I’m okay with that,karena dalam hidup ini Anda tidak pernah mendapatkan kebenaran yang utuh.Orang yang sedang kena flu akan tersiksa oleh angin,oleh panas.Sehingga definisi panas dan angin itu beda-beda pada orang flu dan orang sehat.Orang di dunia ini kanorang sehat dan orang flu.Jadi kalau orang terkena flu bilang saya A,orang sehat bilang saya B,yatidak masalah.

Jadi saya tidak keberatan dengan predikat itu. Terus terang,(dalam kiprah) dengan Kiai Kanjeng,saya bukan pemusik.Saya tidak tahu apa itu A minor,tapi Tuhan memberikan optimisme kepada saya.Saya nggak mengerti not balok.Cuma Gusti Allah sangat kasihan pada saya sehingga kalau ditanya orang tentang jip misalnya,aku dibisiki tentang jip.Tapi jangan bilang saya pakar jip.

Bukankan hal sederhana seperti itu yang membuat apa yang disampaikan ke masyarakat berharga?

Alhamdulillah kalau saya dipandang bermanfaat karena saya kira rumus dasar hidup ini,kadar martabat hidup manusia berbanding lurus dengan manfaat sosialnya.Tapi saya sendiri secara pribadi belum merasa bermanfaat, kalau ada berita saya sedikit bermanfaat,yaAlhamdulillah. Makanya,kalau dalam acara-acara Islam atau Kristen tetap saya ucapkan ayat Alquran.
Saya juga terang-terangan semuanya,sebab saat saya ucapkan ayat Alquran,saya menjanjikan keselamatan siapa saja yang bersama saya. Kalau ada yang salah seratus persen,saya yang salah.Kalau ada yang benar itu semata karena Tuhan.Itu kanrumus dasarnya. Bukan soal rendah hati,tapi kondisi objektifnya memang seperti itu.

Sebelum reformasi,Anda sering muncul di media massa.Kenapa setelah reformasi seolah tenggelam?

Saya akan menjelaskan pada suatu hari ketika orang siap atas penjelasan itu karena tidak semua manusia siap pada kata-kata,atau hujan,atau angin,atau gempa.
(Wawancara Emha Ainun Nadjib)

Kamis, 06 Desember 2007

"JIMO"

Antik, menurutnya kata itu berupa panggilan namanya pengganti nama sebenarnya yang di benci.
"gue paling beci orang tanya asal-usul gue!"
atau
"gue paling benci keramaian,"
atau
" gue paling benci..dsb..dsb.."
Ku rasa dia pun sesungguhnya benci dirinya sendiri.
JIMO katanya merupakan gabungan dua kata. entah siapa dan apa, aku lupa mungkin marger dari Jin Monyet.
Pantas lah, kata-kata lontarannya kadang bikin sebel, jayus tapi kadang lucu.
Inspiratip,seperti katanya Hujan Jum'at menjelang siang ini. Setan Alas! (biasa makian kesayangan yang cocok buat nya) bilang Hujan lama, langitnya sedih..! ough! boleh juga gaya nya. Baca Koran macam orang 'sibuk' aja.Tapi dia memang sibuk.Sibuk melawan 'Bipolar" nya. Sibuk merubah 'nama'nya...dan mungkin sibuk cari jati diri,karena terlanjur 'telat' dewasa.
Akh! JIMO sosok ga' ganteng, cenderung Jelek tapi intelek kalau sudah melek..(meski kadang suka nyempil belek)
JIMO, laki-laki yang berkeras untuk mandiri. Berlari dari tiap-tiap lorong waktu, dan melompat-lompat bertahan dari genangan hidup. JIMO sosok kenalan baru. Pencinta bunga, jelas pasti karena ia adalah kumbang. JIMO...JIMO...JIMO! ( Desember,2007)

"Posisi JiFFest di tengah festival film dunia"


MAJALAH Variety pernah mencatat, saat ini ada 467 festival film tingkat dunia. Termasuk Oscar yang megah, Cannes yang bergengsi, hingga Jakarta International Film Festival (JiFFest) pun masuk dalam catatan ini.
Sejarah festival film sendiri dimulai di negeri spageti, Italia. Tepatnya pada tahun 1932 ketika diktator Benito Mussolini membuka Festival Film Venesia. Hingga sekarang, Festival Film Venezia merupakan festival film tertua di dunia. Sejak Festival Film Venezia lahir, jumlah festivalfestival lainnya semakin marak.
Setiap negara, bahkan mempunyai festival film sendiri-sendiri. Jumlah resmi yang dicatat Variety, saat ini adalah 467 festival film tingkat dunia. JiFFest sendiri, menurut Nouval, mengusung konsep celebration festival. Di festival film ini diputar film-film terbaik dari seluruh dunia yang diproduksi selama dua tahun terakhir.
Menurut dia, JiFFest amat berbeda dengan Cannes maupun Oscar. Nouval mengatakan, ketika pertama kali digelar pada 1999, Indonesia belum mempunyai festival film berkelas internasional. Kehadiran JiFFest, menurut dia, diharapkan jadi ajang pembelajaran bagi para pembuat film. Sebab dulu, film asing jarang diekspos kecuali film Hollywood.
Selain itu, JiFFest juga dimanfaatkan untuk mengembangkan jaringan kerja, baik itu dengan media, para pembuat film maupun penyelenggara festival film lain. Yang menjadi daya tarik JiFFest adalah suasana menonton yang berbeda. Selain itu digelar pula kegiatan diskusi dan workshop.
Konsep yang diusung JiFFest memang tidak jauh berbeda dengan festival-festival film dunia lainnya. Namun, seperti JiFFest, masing-masing festival film justru punya karakteristik sendiri-sendiri. Contohnya, Festival Film Venezia tidak lebih hanyalah reuni insan film dunia.
Sementara itu Festival Film Cannes adalah gabungan antara kemewahan, politik, dan kecerdasan. Kemewahan film ini terletak pada aktor-aktris yang datang dan lokasi acara yang sangat eksotis. Wikipedia sendiri membagi festival film jadi enam bagian, yakni festival film kelas A, eksperimental, independen, festival film di Amerika Latin, festival film di Amerika Utara, dan festival film pelajar.
Untuk kelas A, festival yang dimasukkan adalah Festival Film Cannes, Venice, Berlin, Shanghai, Moskow, San Sebastian, Montreal, Locarno (sejak tahun 2002), Karlovy Vary, Mar del Plata, Kairo, dan Tokyo. Bagi pencinta film independen, festival seperti Sundance adalah surganya.
Selain Sundance, beberapa yang masuk dalam daftar ini adalah Telluride Film Festival, Tribeca Film Festival, WorldFest-Houston, Sonoma Valley Film Festival, dan the Vail Film Festival. (wahyu/sri noviarni)